Senin, 21 November 2016

Sejarah Kaos di Nusantara

Awal mula Tees

Tshirt atau kaos oblong jadi terkenal ketika dikenakan oleh Marlon Brando di tahun 1947, yaitu saat ia bermain peran tokoh Stanley Kowalsky di teater pentas dengan lakon A Street Named Desire. Pada saat itu pengunjung terpaku dan kagum. Meski, terdapat juga audiens yang mengkomplain, dan membuat asumsi kalau pengenaan kaos oblong itu merupakan kurang ajar. Tidak dipungkiri, muncullah masalah sepuar tees.

Inti permasalahannya yaitu, sebagian masyarakat menganggap penggunaan kaos oblong untuk pakaian ini tak etis. Akan tetapi di kelompok yang lain, khususnya anak gaul, telah ditimpa demam tshirt, dan juga berasumsi tshirt sebagai bentuk kemerdekaan anak gaul.

Masalah itu jadinya meningkatkan popularitas serta publisitas tees dalam dunia fashion. Mengakibatkan juga, sebagian perusahaan konveksi mulai terinspirasi berkecimpung, meskipun awal mulanya mereka menyangsikan prospek usaha tees.

Sedikit demi sedikit tetapi yakin, tees berubah menjadi baju sehari-hari dan jadi baju pakaian. Di tengah th. 50an, tshirt sudah berubah menjadi bagian dari dunia gaya. Tetapi mulai pada th. 60an ketika segolongan anak muda gaul mulai populer di dunia, menjadikan tshirt menjadi simbol anti kemapanan.

Banyak kelompok semisal komunitas punk, anak gaul, atau organisasi politik, yang tahu bahwasannya tees mampu menjadi medium persuasi yang mempunyai kekuatan. Kalimat apa saja mampu tercetak diatas kaos oblong, tahan lama, ditambah penyebarluasannya cukup portable.

Siapa saja walau itu konsumen, yang memiliki bisnis, manajeman band, dan sapa saja, mampu secara gampang memperlihatkan siapakah diri Anda cuma dengan memakai kaos oblong dengan design tipografi atau kombinasi bagian design lain.

Berjamurnya kaos serta distro di komunitas usaha modern membawa efek kemajuan dalam dunia desain. Bermacam-macam karya design yang diimplementasikan dalam medium kaos oblong mewarnai kehidupan, bukan cuma bentukan grafi namun photo, karya desain yang dulu tak mungkinkan untuk bisa memakai media kaos, waktu ini semua jadi mungkin saja.

Dalam Nusantara, kabarnya, masuknya tshirt karena dibawa oleh sebagian penduduk Belanda. Tetapi saat itu perkembangannya tak begitu cepat, sebab tees memiliki nilai gengsi tingkat tinggi, ditambah di Indonesia mesin pemintalannya masih belum setara. Menyebabkan tshirt jadi barang mahal.

Tees Distro pada Nusantara

Namun, kaos baru muncul perubahan signifikan serta merambah ke seluruh pelosok desa sekitaran permulaan th. 1970. waktu itu wujudnya masihlah biasa. Memiliki warna putih, bahan baku katun tipis halus, melekat ketat pada badan dan hanya untuk mereka yan pria. Sebagian merek yang populer saat itu yaitu 77 dan Swan. Terdapat pula merek Cabe Rawit, Kembang Manggis, dan sebagainya. Trend tees direkam oleh Seniman Kartun Sudarta GM melalui karakter Om Pasikom bersama keponakannya yang judul "Generasi Kaos Oblong".

Tahun 1980 - dunia kaos oblong dikelilingi oleh industri kreatif. Terlihat sebagian brand populer semisal Kaos JOGER di Bali, Kaos DAGADU di Yogyakarta, serta Kaos C59 di Kota Bandung. kaos oblong ini terkenal dengan designnya yang unik, kreatif, serta menarik.



Th. 1990 yakni tahun di mana dunia tshirt Nusantara di ramaikan orang-orang kreatif yang menjual tees dengan desain sendiri dan menghasilkan mandiri, dan jual di toko sendiri. Istilah mereka adalah Clothing Distro. Dimana distro sendiri merupakan kependekan daripada Distribution Outlet yang bermakna outlet yang menyebarkan dan menyediakan beberapa barang unique, di mana kaos dakwah merupakan salah satunya.

Yang mana distro, singkatan dari distribution outlet atau distribution store, merupakan warung di Indonesia yang menyediakan baju dan aksesories yang dititipkan oleh pembuat pakaian, atau dibuat mandiri. Selain itu distro biasanya adalah industri kecil serta menengah (IKM) dengan merk sendiri yang dimunculkan sama sebagian pemuda. Product yang diciptakan oleh distro diusahakan bukan untuk dibuat dengan cara massal, agar memelihara nilai eksklusif 1 produk dan hasil kerajinan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar